Hikmah di balik Merapi dan Himpitan Lempeng Benua

15 06 2007


Dr.-Ing. Fahmi Amhar

Peneliti Utama Geodesi, Bakosurtanal

Merapi akhirnya meletus Senin (15/5/2006) pagi. Meski
sudah cukup merepotkan dan sempat membuat jenuh pengungsi
dan pemerintah yang mengurusinya, letusan ini agak
“melegakan”. Ibarat orang kebelet tapi belum bisa kentut,
sekarang kentutnya sudah keluar.

Namun tentu tidak begitu bagi para ilmuwan yang terkait
gunung api. Karena aktivitas Merapi ini ternyata “diikuti
kawan-kawannya”, yaitu Marapi dan Talang di Sumatera
Barat, Anak Krakatau di Selat Sunda, Gede dan Pangrango di
Jawa Barat, Dieng di Jawa Tengah, Semeru dan Kelud di Jawa
Timur, Tambora di Nusa Tenggara Barat, Lokon, Soputan dan
Karangetang di Sulawesi Utara, dan Awu di Sangir Talaud.
Secara fisik, magma dalam tiap gunung api tersebut tidak
selalu berhubungan langsung. Namun gunung-gunung tersebut
berada pada satu lempeng benua yang saling bergerak. Para
ahli geodesi telah memonitor pergerakan ini dengan cara
sebagai berikut:

Pertama, mereka menentukan titik-titik pada batuan yang
dianggap stabil di sejumlah tempat. Di atas titik-titik
itu dipasang alat ukur posisi yang amat teliti dengan
perangkat Global Positioning System (GPS). Pengukuran ini
memakan waktu setidaknya tiga kali 24 jam dan harus
dilakukan serentak. Dengan pengukuran teliti ini,
didapatkan koordinat yang kesalahan relatifnya kurang dari
5 milimeter.

Beberapa tahun kemudian, dilakukan pengukuran ulang di
tempat yang sama dengan metode serupa. Dari dua koordinat
beda waktu ini, didapatkan data adanya pergerakan lempeng
benua beberapa centimeter per tahun.

Kemudian pada pengukuran ketiga, didapatkan arah dan
kecepatan gerakan lempeng benua tadi. Karena penelitian
geodinamika ini dilakukan di seluruh dunia, maka
didapatkanlah peta pergerakan lempeng benua. Lempeng ini
bergerak beserta seluruh mahluk di atasnya, termasuk
gunung-gunung. Dalam Qur’an tertulis:
Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di
tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.(QS
27 – an-Naml:88).

Lempeng-lempeng ini memiliki ketebalan kurang-lebih 20-30
km. Karena besarnya massa lempeng ini (bayangkan batu
seluas benua setebal 20-30 km), maka meski geraknya hanya
5-10 cm pertahun, energi kinetiknya sangat dahsyat.
Terkadang energi ini tertahan bertahun-tahun. Artinya,
ketika geodinamika mencatat pergerakan yang melambat, atau
bahkan terhenti, maka kita justru harus curiga. Ketika
elastisitas material di dalam bumi tidak sanggup lagi
menampung energi yang tertahan ini, dia bisa “ejakulasi”
dalam bentuk gempa seismik mendadak yang sangat berbahaya
(apalagi bila terjadi di laut dan menyebabkan tsunami),
atau dalam bentuk muntahan material (magma) lewat
gunung-gunung berapi di perbatasan lempeng. Kalau
teratur, muntahan itu bisa dikendalikan dalam bentuk
energi panas bumi, namun sebagian besar keluar tak
terkendali dalam bentuk awan panas, lava pijar atau hujan
abu.

Yang jelas, mekanisme ini sepertinya memang sengaja
didesain untuk menjaga stabilitas energi geodinamik.
Dalam Qur’an tertulis:
Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu
tidak goncang bersama kamu . (QS 16 – an-Nahl: 15).

Indonesia “beruntung” berada di perbatasan tiga lempeng
utama, yaitu lempeng Pasifik, lempeng Indo-Australia
(termasuk Samudra Hindia) dan lempeng Eurasia. Dari data
seismik dan vulkanik ratusan tahun, dunia juga mencatat
adanya dua “cincin api” yang terbentang mengelilingi
Samudra Pasifik dan mengikat dari Nusa Tenggara ke
Himalaya sampai kawasan Mediterania di Eropa. 90% gempa
dan 81% gempa terbesar dicatat di cincin api ini.
Hebatnya lagi: dua cincin api ini bertemu di Indonesia.
Kita memang berada di kawasan terpilih!

Dengan memahami cincin api ini, kita tak perlu heran
ketika gunung Lascar di Chile, dan Ubinas di Peru juga
“ikut-ikutan demo” bersama Merapi dan sejumlah gunung lain
di Indonesia.

Banyak teori yang dilontarkan tentang penyebab pergerakan
benua. Ada yang mencoba mengaitkan dengan aktivitas
kosmik (revolusi bulan mengelilingi bumi, padahal
distribusi massa kedua benda ini tidak merata; atau juga
munculnya bintik di matahari atau “sunspots”). Teori lain
menganggap itu adalah sisa energi dari proses pembentukan
bumi berjuta tahun yang lalu, yang semula adalah gas dan
kemudian mendingin, namun di dalamnya masih bergolak
dengan api. Teori lain menganggap aktivitas itu karena
proses peluruhan nuklir di dalam bumi.

Apapun penyebabnya, fakta kita di Indonesia harus hidup
bersama 129 gunung api. Sebagian ahli vulkanologi
meyakini, bahwa di masa lalu bisa jadi pernah terjadi
letusan gunung api maha dahsyat (Supervolcano). Letusan
itulah yang barangkali pernah menciptakan danau Toba –
atau mungkin juga kaldera “Segorowedi” di gunung Bromo.
Bahkan ada teori yang menduga bahwa punahnya dinosaurus
jutaan tahun yang lalu bisa jadi bukan karena asteroid
yang menabrak bumi, namun lebih karena Supervolcano ini.
Yach di dunia ini serba mungkin.

Yang jelas, fenomena gempa (termasuk tsunami) dan gunung
api ini adalah bagian dari mekanisme yang diberikan Allah
untuk mendaur ulang material-material di dalam bumi.
Dengan mekanisme ini, ada mineral seperti emas atau besi
yang dinaikkan ke dekat permukaan bumi sehingga lebih
mudah ditambang, atau sampah organik akan dihimpit dengan
suatu tekanan sehingga nantinya menjadi tambang
hidrokarbon (migas, batubara), atau juga setidaknya abu
vulkanik ini akan memberi mineral tambahan bagi para
petani di sekitar gunung api tersebut.

Mungkin juga, bagi bangsa yang sudah sangat terkutuk,
mekanisme ini jugalah yang dipakai Allah untuk “mendaur
ulang” mereka.
Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan
mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu).
(Qs. 35 – al-Faatir:16)

Mudah-mudahan kita masih diberi kesempatan untuk bertobat.
Dan potensi alam yang begitu besar di negeri ini dapat
kita jadikan gardu epos untuk membaktikan potensi tersebut
sebagai rahmat ke seluruh semesta.





PIDATO UNCLE BUSH

15 06 2007

Dear All,

Ini ada bocoran pidato Bush sebelum datang ke

Indonesia yang telah diterjemahkan ….

Apa kesimpulan anda ….?

Berikut bocoran pidato Bush sewaktu briefing di White House

sebelum berkunjung ke
Indonesia
nanti.

Ehm ehm…

Kepada yang terhormat Direktur CIA, FBI, Direktur Bank
Dunia, ADB, IMF, CEO Haliburton, Exxon Mobil,
Freeport, Bankir2 Internasional, dan semua yang telah
membantu kami membiayai perang Iraq, Afghanistan,
serta menyebarluaskan kekuasaan imperium global,
Direktur media dan televisi CNN, ABC, NBC, yang telah
membantu propaganda kita, kami ucapkan terima kasih Baca entri selengkapnya »





RENUNGAN

15 06 2007
 

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang
sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW,
dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW,
selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal
Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia
ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya
Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan
kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh)
indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya
(qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan,
tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu
bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas
memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang
diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan
keputusan Allah.

Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda
Rasulullah SAW yaitu :
“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah
orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi
kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal
ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan
kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel”
dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan
kemudahan yang lebih besar lagi.
Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang
sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah
dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang
suami (sebagai imam keluarga) akan diminta
pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada
kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila
memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras
untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang
sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan
memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam
melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan
suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang
memiliki seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu
dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet.
Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak
muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu :
“Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang
ibu yang sudah udzur.

<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Saya sangat mencintai dia dan saya
tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya
hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika
istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”.
Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku
sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada
orang tua ?”
Rasulullah SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan:
“Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak
yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu
tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita
mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak
cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita,
namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak
yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang
tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila
memiliki anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif
untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita
boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai
sahabat karib kita, haruslah orang- orang yang mempunyai
nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah
haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu
bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang
sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan
mengingatkan kita bila kita berbuat salah.

Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena
nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada
cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut
menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.

Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh
orang-orang yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya
harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak
menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab
sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang
sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah
bagus”, kata Rasulullah SAW, “Namun sayang makanan, minuman
dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram,
bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi
orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah
dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan
dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan
kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka
berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga
kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami
agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami
ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia
terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai
sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya
yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia
kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah
dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi
hatinya.

Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya,
hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya
nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang
yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua
semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal
ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan
dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak
bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun
cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome).
Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya
menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan
terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan,
hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan
yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya
dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui
amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk
bertemu dengan Sang Penciptanya.

Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih.
Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini,
bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan
alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan
Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah
umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya
baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7
indikator kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh
buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha
keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada
Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca
doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca
oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut
“Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya
Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai
makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh
indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra,
yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh,
anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh,
harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama,
dan umur yang baroqah.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada
di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita
mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut
yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga
kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan
rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi
rahmat Allah, kasih sayang Allah.
Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita
masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena
rahmat Allah.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau
setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk
mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna
apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah
sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Rasulullah SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa
memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya:
“Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab
Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”.
Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan
apa kita masuk surga?”. Rasulullah SAW kembali menjawab : “Kita
dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah
semata”.
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarrub kita kepada Allah
sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan
rahmat Allah SWT. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan
surga Allah (Insya Allah, Amiin).
———

Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam
Aminudin, Lc. di
Sapporo, Jepang,

 





Pengurus Komite Sekolah SMPN 1 Malingping

15 06 2007

Ketua : M. Cidi Rosadi, S.Pd

Wakil Ketua : Aam Marto S., S.IP

Sekretaris : Kholid Sukandi, S.Pd

Bendahara : Hj. Yati





PERPISAHAN

15 06 2007

Perpisahan Kelas 9 SMPN 1 Malingping dilaksanakan tanggal 21 Juni 2007





PENGUMUMAN PSB 2007

15 06 2007

PSB dimulai tanggal 25 Juni 2007 – 2 Juli 2007.





15 06 2007

img_1912.jpg

 

Urang Banten ge moal katinggalen. Merdeka …. !!!