|
Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur. Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda |
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang
sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah
dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang
suami (sebagai imam keluarga) akan diminta
pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada
kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila
memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras
untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang
sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan
memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam
melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan
suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang
memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu
dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet.
Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak
muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu :
“Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang
ibu yang sudah udzur.
<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />
Saya sangat mencintai dia dan saya
tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya
hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika
istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”.
Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku
sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada
orang tua ?”
Rasulullah SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan:
“Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak
yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu
tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita
mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak
cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita,
namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak
yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang
tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila
memiliki anak yang sholeh.
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif
untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita
boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai
sahabat karib kita, haruslah orang- orang yang mempunyai
nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah
haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu
bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang
sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan
mengingatkan kita bila kita berbuat salah.
Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena
nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada
cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut
menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.
Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh
orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya
harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak
menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab
sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang
sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah
bagus”, kata Rasulullah SAW, “Namun sayang makanan, minuman
dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram,
bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi
orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah
dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan
dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan
kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka
berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga
kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami
agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami
ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia
terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai
sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya
yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia
kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah
dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi
hatinya.
Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya,
hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya
nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang
yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua
semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal
ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan
dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak
bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun
cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome).
Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya
menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan
terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan,
hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan
yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya
dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui
amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk
bertemu dengan Sang Penciptanya.
Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih.
Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini,
bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan
alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan
Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah
umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya
baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7
indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh
buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha
keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada
Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca
doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca
oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut
“Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya
Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai
makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh
indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra,
yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh,
anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh,
harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama,
dan umur yang baroqah.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada
di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita
mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut
yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga
kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan
rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi
rahmat Allah, kasih sayang Allah.
Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita
masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena
rahmat Allah.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau
setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk
mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna
apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah
sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Rasulullah SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa
memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya:
“Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab
Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”.
Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan
apa kita masuk surga?”. Rasulullah SAW kembali menjawab : “Kita
dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah
semata”.
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarrub kita kepada Allah
sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan
rahmat Allah SWT. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan
surga Allah (Insya Allah, Amiin).
———
Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam
Aminudin, Lc. di
Sapporo, Jepang,
Komentar Terakhir